Menikah Ibarat Naik Mobil Bersama (1/3)

Tulisan ini saya salin dari Facebook. Semoga bermanfaat.
—–

Selama sekian tahun ini , kalau saya seminar pra nikah atau seminar keluarga – saya memberikan beberapa gambaran tentang jalinan pernikahan. Gambaran ini saya berikan berbagai macam dengan penekanan yang berbeda supaya mempermudah peserta seminar untuk mengerti.

Menikah saya gambarkan seperti 2 orang yang naik sampan bersama , dengan masing-masing membawa dayungnya. Butuh tujuan , latihan komunikasi , latihan keseimbangan dan latihan kesepakatan untuk sampannya sampai di tujuan dengan selamat. Kalau egois dan merasa benar sendiri , maka sampannya tidak melaju ke depan tetapi berputar-putar , karena tidak dijaga keseimbangan dan kesepakatan.

Juga pernikahan saya gambarkan seperti 2 orang yang main badminton ganda campuran. Butuh komunikasi yang baik , latihan untuk saling mengerti , butuh saling menutupi kekurangan , butuh latihan untuk menyerang dan bertahan , butuh menjaga kekompakan. Kalau merasa hebat sendiri maka pasangannya akan dipasifkan dan dinonjobkan. Keduanya bisa merasa frustasi satu sama lain.

Pernikahan juga saya gambarkan seperti 2 orang yang naik gunung bersama , sementara ada tali yang tidak putus di antara mereka. Tali menggambarkan ikatan yang saling mempengaruhi , juga ada batas-batas baru dibandingkan saat hidup bujang. Maka kalau 2 orang naik gunung bersama , dibutuhkan latihan sebelumnya untuk mengatasi kesulitan , komunikasi yang baik , kekuatan untuk berjalan dan bertahan , termasuk mengikuti kekuatan yang lemah supaya tetap bersama. Kalau tidak mau latihan dan bekerja sama maka salah satu akan menjadi beban buat pasangannya.

Pernikahan juga saya gambarkan seperti 2 orang yang memasak bersama. Mereka sepakat untuk masak makanan tertentu. Diperlukan persiapan yang baik , komunikasi yang baik , juga selera yang sama atau mirip – karena makanan itu akan dinikmati bersama. Dibutuhkan kesabaran , toleransi juga keterbukaan yang membangun di antara keduanya. Kalau tidak peduli dengan selera dan persiapan , asal-asalan saja – maka ‘masakan kehidupan rumah tangga’ yang mereka olah menjadi tidak enak.

Lalu saat mengisi acara Keluarga Bahagia di radio sekian bulan yang lalu , tercetus 1 gambaran lagi tentang pernikahan. Menikah dapat digambarkan seperti 2 orang yang naik mobil bersama.
Kalau dulu pernikahan sering digambarkan seperti 2 orang yang naik bahtera rumah tangga mengarungi laut kehidupan – kali ini saya menggambarkannya seperti 2 orang yang naik mobil bersama.
Mobil yang dipakai harus prima , semua bagiannya bekerja dengan baik. Mulai dari mesin , roda , rem , pintu , wiper ( penghapus kaca ) , kursinya nyaman, AC nya juga baik dan lancar.
Kalau ada bagian yang tidak bekerja sebagaimana mestinya – maka mobil itu akan mengalami masalah di perjalanannya kelak.  Itu menggambarkan betapa sebelum menikah sebaiknya semuanya disiapkan dengan baik. Mulai dari kesepakatan 2 orang , kesepakatan 2 keluarga, pekerjaan yang mapan , tempat tinggal , latihan komunikasi di antara keduanya , juga persiapan ‘penyatuan budaya’ yang berbeda di antara keduanya. Persiapan yang baik akan mempermudah jalannya ‘mobil pernikahan’ mereka.

Mobil juga harus di service secara berkala. Harus ganti olie mesin , olie garden , olie rem , olie persneling – juga harus di tune-up mesinnya. Distel mesinnya sehingga akan lancar bekerjanya.  Demikian juga dengan pernikahan. Pernikahan perlu juga di –service. Duduk bersama refreshing untuk menyegarkan visi pernikahan. Membangun komunikasi yang saling memahami dan saling mengasihi. Saling introspeksi diri untuk kepentingan bersama. Bahkan bila perlu ikut retreat bersama suami istri untuk menyegarkan kembali pernikahan bahkan menguatkan kembali hubungan pernikahan yang sudah sekian tahun berjalan.
Service mobil dilakukan berkala supaya mesinnya tetap bisa digunakan dengan baik , demikian juga dengan pernikahan perlu di ‘service secara berkala’ supaya tetap kuat dan segar.

Mobil juga perlu dijaga fungsi gas dan rem-nya. Selain ban dan remnya di periksa secara berkala , juga perlu kesepakatan bersama kapan rem dan gas digunakan. Saat harus mengerem ya harus mengerem , kalau tidak akan terjadi tabrakan. Kapan harus nge-gas ya harus di gas. Kalau tidak ‘mobil pernikahannya’ tidak melaju ke depan , tidak ada perkembangan berarti.
Demikian juga dengan pernikahan. Suami istri mesti memahami kapan saatnya mengerem kapan saatnya nge-gas. Kalau suami maunya nge-gas tetapi istrinya mau mengerem , maka mobil itu akan diam di tempat walau gasnya ditekan pol. Selama remnya juga ditekan pol maka itulah yang disebut gas pol rem pol. Mesin akan panas dan rem akan rusak. Rumah tangga isinya perbantahan dan pertengkaran.
Tahu kapan harus diam , kapan bicara , kapan mengalah untuk kebaikan bersama , kapan bicara mempertahankan pendapat. Tahu saatnya mendengarkan , tahu kapan saatnya bicara.
Kalau keduanya bicara bersamaan atau diam bersamaan , maka tidak ada komunikasi yang terjalin. Tidak ada pemahaman yang dibagikan , maka tidak ada pengertian diantara keduanya.

Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang. [ 1 Petr 3:7 ]

Ayam dan Bebek

Oleh Ajahn Brahm

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan:
“Kuek ! Kuek !”
“Dengar, itu pasti suara ayam”, kata si istri.
“Bukan, bukan. Itu suara bebek, “kata si suami.
“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.
“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuuk !’, bebek itu ‘kuek ! kuek !’. Itu bebek, sayang “, kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
“Kuek ! kuek !” terdengar lagi.
“Nah, tuh ! Itu suara bebek, “ kata si suami.
“Bukan, sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tanda si istri sembari
menghentakkan kaki.
“Dengar ya ! Itu a…da…lah…. Be…bek. B-E-B-E-K. Bebek ! Mengerti ?” si suami berkata dengan gusar.
“Tapi itu ayam”, masih saja si istri bersikeras.
“Itu jelas-jelas bue..bebek, kamu…kamu….” (terdengar lagi suara “Kuek ! Kuek !” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.)
Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam…. “
Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”
“Terima kasih, sayang, “ kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.
“Kuek ! Kuek !”, terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita di atas bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam indah itu. Berapa banyak hubungan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?
Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek.

Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin , amat sangat mantap, mutlak bahwa kita itu benar, namun belakangan ternyata kita salah. Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

Sumber Buku : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.

Nasehat Cak Lontong

Nasehat dari cak lontong

● Berhentilah menuntut ilmu, karena ilmu tidak bersalah.
● Jangan membalas budi karena belum tentu budi yang melakukannya.
● Jangan mengarungi lautan, karena karung lebih cocok untuk beras.
● Berhenti juga menimba ilmu, karena ilmu tidak ada di dalam sumur
● Yang paling penting, jangan lupa daratan, karena kalau lupa daratan akan tinggal dimana…???
● Jangan ngurusin orang karena belum tentu orang itu pengen kurus.
● Dan janganlah bangga menjadi atasan. Karena di Pasar Baru atasan 10 ribu dapat 3

Status Media Sosial

Renungan dari ANNE AVANTIE (diedit seperlunya, tanpa mengurangi makna tulisan)

Status di profil menjadi karakter yang terbaca oleh orang lain, yang menelanjangi diri sendiri. Luapan hati yang harusnya tersembunyi menjadi konsumsi publik. Orang begitu gampangnya menunjukkan suasana hati yang kadang justru menjadi bumerang yg menyerang diri sendiri.

Bahkan ada yang seperti mengumpat sehingga menimbulkan tanda tanya. Orang yang sedang bermasalah akan merasa bahwa status itu ditujukan untuknya, dan akan memicu masalah baru. Orang jadi bertanya-tanya ditujukan pada siapa status itu? Status-status yg tidak memberkati akan memicu konflik.

Saya pernah membaca status seperti ini “hai…perempuan sundal perampas suami orang”, yang akhirnya tidak hanya membuka aib rumah tangga sendiri, tapi juga memicu pertanyaan “siapa yg disebut sundal?”. Parahnya orang itu lupa ada anak-anaknya yang membaca, yang tentu dipermalukan. Privacy yang harusnya diranah bawah atap, akhirnya dikonsumsi publik. Dan suami yang adalah ayah dari anak-anaknya dipermalukan sendiri dihadapan umum.

Hendaknya status-status kita yang dihiasi bulatan rasa hati dipikirkan dampaknya. Tidak jarang melalui media sosial, kita berkomentar atau curcol atau komplain yang membunuh karakter dan hajat hidup orang lain. Sebenarnya apa yg kita lakukan akan kembali pada diri sendiri, cepat atau lambat, tapi pasti.

Dari telunjuk kita, dunia bisa kita kendalikan. Jari telunjuk kita yg menekan huruf-huruf, bisa membawa duka, lara ,nestapa, sakit hati, perpecahan, fitnah, pembunuhan karakter, tapi bisa juga mendatangkan berkat dan menciptakan kedamaian.

Tidak satupun yang kita lakukan tidak kembali pada diri sendiri. Semua tinggal menunggu waktu. Apa yg kita tabur akan kita tuai sendiri.

    (Berkah Dalem)

Pelajaran dari Ban

Seorang anak memperhatikan ayahnya yang sedang mengganti ban mobil mereka.

“Mengapa ayah mau repot-repot mengerjakan ini dan tidak memanggil orang bengkel saja untuk mengerjakannya?” tanya si bocah dengan penasaran.

Sang ayah tersenyum. “Sini, nak, kau lihat dan perhatikan. Ada enam hal tentang ban yang bisa kita pelajari untuk hidup kita,” katanya sambil menyuruh sang bocah duduk di dekatnya. “Belajar dari ban?” Mata sang anak membelalak.

“Lebih pintar mana ban ini daripada bu guru di sekolah?”

Sang ayah tertawa. “Gurumu tentu pintar, Nak. Tapi perhatikan ban ini dengan segala sifat-sifatnya.

Pertama, ban selalu konsisten bentuknya. Bundar. Apakah dia dipasang di sepeda roda tiga, motor balap pamanmu, atau roda pesawat terbang yang kita naiki untuk mengunjungi kakek-nenekmu. Ban tak pernah berubah menjadi segi tiga atau segi empat.”

Si bocah mulai serius. “Benar juga ya, Yah. Terus yang kedua?”

“Kedua, ban selalu mengalami kejadian terberat. Ketika melewati jalan berlubang, dia dulu yang merasakan. Saat melewati aspal panas, dia juga yang merasakan.

Ketika ada banjir, ban juga yang harus mengalami langsung.

Bahkan ketika ada kotoran hewan atau bangkai hewan di jalan yang tidak dilihat si pengemudi, siapa yang pertama kali merasakannya?” tanya sang ayah.
“Aku tahu, pasti ban ya, Yah?” jawab sang bocah antusias.”Benar sekali.

Ketiga, ban selalu menanggung beban terberat. Baik ketika mobil sedang diam, apalagi sedang berjalan. Baik ketika mobil sedang kosong, apalagi saat penuh penumpang dan barang. Coba kau ingat,” ujar sang ayah. Si bocah mengangguk.

“Yang keempat, ban tak pernah sombong dan berat hati menolak permintaan pihak lain. Ban selalu senang bekerja sama. Ketika pedal rem memerintahkannya berhenti, dia berhenti. Ketika pedal gas menyuruhnya lebih cepat, dia pun taat dan melesat. Bayangkan kalau ban tak suka kerjasama dan bekerja sebaliknya? Saat direm malah ngebut, dan saat digas malah berhenti?”

“Wow, benar juga Yah,” puji sang bocah sambil menggeser duduknya lebih dekat kepada sang ayah.

“Nah, sifat kelima ban adalah, meski banyak hal penting yang dilakukannya, dia tetap rendah hati dan tak mau menonjolkan diri. Diag biarkan orang-orang memuji bagian mobil lainnya, bukan dirinya.”
“Maksud ayah apa?” tanya si bocah bingung.
“Kamu ingat waktu kita ke pameran mobil bulan lalu?” tanya sang ayah disambut anggukan sang bocah.
“Ingat dong, Yah, kita masuk ke beberapa mobil kan?”

“Persis,” jawab sang ayah. “Biasanya di show room atau pameran mobil, pengunjung lebih mengagumi bentuk body mobil itu, lalu ketika mereka masuk ke dalam, yang menerima pujian berikutnya adalah interior mobil itu.

Sofanya empuk, AC-nya dingin, dashboardnya keren, dll. Jarang sekali ada orang yang memperhatikan ban apalagi sampai memuji ban. Padahal semua kemewahan mobil, keindahan mobil, kehebatan mobil, tak akan berarti apa-apa kalau bannya kempes atau bocor.”

“Wah, iya ya, Yah, aku sendiri selalu lebih suka memperhatikan kursi mobil untuk tempat mainanku.”

Sang ayah selesai mengganti bannya, dan berdiri menatap hasil kerjanya dengan puas.

“Yang keenam tentang ban adalah, betapa pun bagus dan hebatnya mobil yang kau miliki, atau sepeda yang kau punya, atau pesawat yang kita naiki, saat ban tak berfungsi, kita tak akan bisa kemana-mana. Kita tak akan pernah sampai ke tujuan.”
Sang anak mengangguk-angguk.

Sang ayah menuntaskan penjelasannya, “Jadi saat kau besar kelak, meski kau menghadapi banyak masalah dibanding kawan-kawanmu, menghadapi lumpur, aspal panas, banjir, atau tak mendapat pujian sebanyak kawan-kawanmu, bahkan terus menanggung beban berat di atas pundakmu, tetaplah kamu konsisten dengan kebaikan yang kau berikan, tetaplah mau bekerja sama dengan orang lain, jangan sombong, ria dan merasa hebat sendiri, banding bandingkan dgn yg lain, jangan kamu memuji muji dirimu, hanya orang lain kelak yg bisa menilai kamu berhasil atau tdk dan yang terpenting, tetaplah menjadi penggerak di manapun kau berada. Itulah yang ayah maksud dengan hal-hal yang bisa kita pelajari dari ban untuk hidup kita.”

Pentingnya Kejujuran

Sepasang suami istri baru menikah, si suami ingin memberikan surprise pada
istri yang cantik jelitanya.

Suatu hari si suami berkata kepada istrinya..

👦 : Sayang, kita pergi yuk, tapi mata kamu harus ditutup yach …!

👧 : Kok harus ditutup sih mas …?

👦 : Yah, pokoknya ada sesuatu untukmu

Merekapun berangkat dengan menggunakan taksi.

Begitu sampai di tempat yang dituju mereka turun, kemudian si suami mengajak istrinya masuk ke rumah baru yang dijadikan
sebagai surprise untuk istrinya, tapi si suami masih belum mengijinkan istrinya membuka tutup mata.

Namun, si istri ingin buang angin, tapi karena masih malu sama suaminya si
istri pura-pura minta tolong dibikinin
minuman

👧 : Mas, ambilin saya minum dong…!

Suaminya kemudian pergi mengambil minuman

Ketika suaminya pergi si istri buang angin *duuuut..*💨💨💨

Tidak lama kemudian si suami datang membawa minuman, ternyata si istri masih ingin buang angin..

👧 : Mas minumannya kurang manis, tambahin gula lagi yah..

Si suami pergi lagi untuk menambahkan gula pada minuman

Ketika suaminya pergi si istri kentut lagi “duuuuuut… .”💨💨💨💨

Kemudian si suami datang lagi untuk memberikan minuman, tapi ternyata si istri masih ingin buang angin, akhirnya dengan berberat hati si istri minta ditambahkan gula lagi

“DDuuuuuUTTttt.”

…..drutduutt..duuuutt… Pret!”

💨💨💨💨💨💨

Akhirnya si istri merasa lega karena telah selesai buang anginnya.

Ketika si suami tiba dan menyerahkan
minuman, kemudian si suami membuka tutup mata si istrinya, si istri terkejut karena ternyata di rumah sudah banyak orang dan disampingnya ada mertuanya.

Sambil malu-malu si istri bertanya pada mertuanya,

👧 : Oh Bapak, sudah lama datang..?

👴 : Sudah, sejak kentutan pertama..!!

—————————————–

Pesan Moral : Bersikap jujur itu penting. Demi menjaga gengsi, tidak jarang yang berakhir dengan tengsin. 😁

What Lies Beneath

A cruise ship met with an accident at sea. On the ship was a couple who, after having made their way to the lifeboat, they realized that there was only space for one person left.

At this moment, the man pushed the woman .behind him and jumped onto the lifeboat himself. The lady stood on the sinking ship and shouted one sentence to her husband.

The teacher stopped and asked, “What do you think she shouted?” Most of the students excitedly answered, “I hate you! I was blind!”

Now, the teacher noticed a boy who was silent throughout, she got him to answer and he replied, “Teacher, I believe she would have shouted – Take care of our child!”

The teacher was surprised, asking “Have you heard this story before?”
The boy shook his head, “Nope, but that was what my mum told my dad before she died to disease”.

The teacher lamented, “The answer is right”. The cruise sunk, the man went home and brought up their daughter single-handedly.

Many years later after the death of the man, their daughter found his diary while tidying his belongings. It turns out that when parents went onto the cruise ship, the mother was already diagnosed with a terminal illness. At the critical moment, the father rushed to the only chance of survival. He wrote in his diary, “How I wished to sink to the bottom of the ocean with you, but for the sake of our daughter, I can only let you lie forever below the sea alone”. The story is finished, the class was silent.

The teacher knows that the student has understood the moral of the story, that of the good and the evil in the world, there are many complications behind them which are hard to understand. Which is why we should never only focus on the surface and judge others without understanding them first.

Those who like to pay the bill, do so not because they are loaded but because they value friendship above money.

Those who take the initiative at work, do so not because they are stupid but because they understand the concept of responsibility.

Those who apologize first after a fight, do so not because they are wrong but because they value the people around them.

Those who are willing to help you, do so not because they owe you any thing but because they see you as a true friend.

Those who often text you, do so not because they have nothing better to do but because you are in their heart.

One day, all of us will get separated from each other; we will miss our conversations of everything & nothing; the dreams that we had. Days will pass by, months, years, until this contact becomes rare..